WartaBojonegoro, BOJONEGORO – Pagi itu beberapa warga terlihat mengangkut batu kapur, sebagian lain meratakan tanah di tengah hamparan sawah Desa Bungur, Kecamatan Kanor. Tanpa alat berat dan tanpa papan proyek, jalan usaha tani (JUT) itu dibangun perlahan oleh tangan-tangan warga sendiri.
Di tengah berkurangnya anggaran desa yang bersumber dari Dana Desa (DD) pemerintah pusat maupun Alokasi Dana Desa (ADD) daerah, warga memilih tidak menunggu program datang. Mereka mengumpulkan iuran, tenaga, serta waktu luang demi membuka akses menuju lahan pertanian.
“Kami bersama warga yang lain bergotong royong dengan swadaya untuk membangun JUT,” ujar salah satu warga kepada pewarta,(10/2/2026).
Jalan yang sebelumnya berupa tanah berlumpur saat musim hujan kini mulai mengeras. Sepeda motor dan gerobak pengangkut hasil panen sudah bisa melintas, mempersingkat waktu distribusi gabah dari sawah ke rumah atau tempat penjualan.
Bagi warga, pembangunan itu bukan sekadar infrastruktur, melainkan wujud kebersamaan. Nilai yang selama ini menjadi semboyan Desa Bungur “Guyub Rukun, Makmur dan Bahagia” diterjemahkan dalam kerja nyata di masyarakat.
Penjabat (Pj) Kepala Desa Bungur, Hariyanto, menilai langkah warga menunjukkan kekuatan sosial desa masih terjaga.
“Saya sangat mengapresiasi kekompakan masyarakat. Tanpa menunggu bantuan, warga mampu bergotong royong membangun fasilitas bersama. Ini contoh nyata kemandirian desa,” kata Hariyanto.
Ia berharap semangat swadaya tersebut tetap dipertahankan, tidak hanya dalam pembangunan jalan usaha tani, tetapi juga untuk merawat fasilitas yang telah dibangun bersama. (Red).





