News  

Ironi Pesta Rakyat HJB ke-349: Ribuan Warga Berdesakan Demi Sebungkus Nasi, Tamparan Keras bagi Pemkab

Foto: Pesta rakyat peringatan Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke - 349 di Alun - alun Bojonegoro.

Wartabojonegoro, BOJONEGORO – Pesta rakyat peringatan Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-349 pada Sabtu (24/10/2026) berakhir dengan catatan memalukan. Alih-alih merayakan kemajuan daerah, acara tersebut justru diwarnai pemandangan ribuan warga yang saling berdesakan hanya untuk mendapatkan sebungkus nasi. Keadaan ini menjadi tamparan keras bagi Pemerintah Kabupaten Bojonegoro di tengah klaim APBD yang melimpah dan kekayaan minyak bumi yang digadang-gadang menyejahterakan rakyat.

Pengamat kebijakan publik yang biasa di sapa mbah kin, memberikan kritik tajam terkait insiden tersebut pada Minggu (25/10/2026). Menurutnya, aksi warga berebut makanan gratis bukanlah sekadar antusiasme, melainkan gambaran akan kondisi ekonomi masyarakat bawah.

“Kelaparan, kehausan, dan kekeringan memicu masyarakat untuk berebutan sampai rela ‘untel-untelan’. Ini sangat memalukan jika menjadi tontonan nasional. Kita harus bertanya secara jujur, apakah ini pertanda rakyat Bojonegoro sedang benar-benar kelaparan hingga begitu nafsunya mengejar sebungkus nasi?” ujar mbah kin dengan nada sarkasme.

Kritik tajam dari pengamat ini diamini oleh warga di lapangan. Bagi masyarakat, perilaku berebut makanan hingga mengabaikan keselamatan diri adalah bukti empiris bahwa kesejahteraan yang digaungkan pemerintah belum menyentuh akar rumput.

BACA JUGA  Bupati Bojonegoro Sambut Tim Komnas Pengendalian Tembakau, Dorong Jadi Kabupaten Percontohan KTR

“Logikanya, kalau rakyat tidak kelaparan, tidak ada yang mau berebut makanan seperti itu. Itu sudah cukup jadi jawaban,” celetuk seorang warga yang menyaksikan insiden tersebut.

Kejadian ini pun menjadi potret kontradiktif yang mencolok: Bojonegoro dengan APBD triliunan rupiah gagal memberikan rasa hormat kepada warganya di hari ulang tahun daerahnya sendiri. Alih-alih menjadi ruang kebahagiaan bersama, perayaan HJB ke-349 justru menjadi panggung “kerendahan martabat” yang dipicu oleh ketimpangan ekonomi.

Publik mendesak agar insiden ini dijadikan bahan koreksi bagi Pemkab Bojonegoro. Kegagalan manajemen dalam pesta rakyat ini harus menjadi tamparan agar pemerintah tidak lagi terjebak pada euforia seremonial. (Red)

Back to top