Opini  

Menakar Makna Ulang Janji Pramuka di Era Digital

Foto: Ilustrasi

Oleh: Warta Bojonegoro
Penulis: Agoes

 

Setiap 14 Agustus, Gerakan Pramuka memperingati hari lahirnya. Di antara tradisi yang terus dipertahankan adalah ulang janji. Sebuah prosesi yang biasanya berlangsung khidmat, sering kali di bawah temaram api unggun.

Tetapi ulang janji semestinya tidak berhenti sebagai upacara.

Ia adalah momen untuk bertanya kepada diri sendiri: masihkah janji yang kita ucapkan memiliki daya hidup di tengah zaman yang berubah begitu cepat?

Pertanyaan itu menjadi penting ketika generasi muda hari ini tumbuh di tengah banjir informasi. Telepon pintar berada di tangan hampir setiap saat. Media sosial menjadi ruang pergaulan, tempat berdebat, bahkan tempat membentuk opini.

Di ruang yang serba cepat itu, hoaks menyebar dalam hitungan detik. Ujaran kebencian mudah ditemukan. Perundungan siber dapat dilakukan tanpa harus berhadapan langsung dengan korbannya. Etika komunikasi pun kerap kalah oleh keberanian berkomentar.

Di sinilah nilai kepramukaan diuji.

Dwi Satya dan Dwi Darma bagi Pramuka Siaga, serta Tri Satya dan Dasa Darma bagi Penggalang, Penegak, dan Pandega, bukan sekadar teks yang dihafalkan untuk menghadapi upacara. Ia merupakan fondasi karakter.

Masalahnya, fondasi itu akan kehilangan arti jika hanya hidup di lapangan upacara, tetapi mati ketika seorang Pramuka masuk ke ruang digital.

BACA JUGA  Pilkades PAW Wotan: Demokrasi Desa di Tepi Jurang Legalitas

Pramuka yang berjanji menjalankan kewajibannya kepada Tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan mengamalkan Pancasila, misalnya, semestinya juga membawa komitmen itu ke media sosial.

Tidak menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Tidak menghina orang yang berbeda pandangan. Tidak ikut melakukan perundungan. Tidak memprovokasi. Dan yang tidak kalah penting, menggunakan teknologi untuk sesuatu yang memberi manfaat.

Itulah bentuk baru pengamalan nilai lama.

Zaman berubah, tetapi karakter tidak boleh ikut larut.

Begitu pula dengan semangat mencintai alam. Di tengah ancaman perubahan iklim, persoalan sampah, kerusakan lingkungan, krisis air, dan tekanan terhadap lahan pertanian, cinta alam tidak cukup diterjemahkan melalui kegiatan menanam pohon setahun sekali.

Cinta alam harus bertemu dengan agenda pangan.

Pramuka dapat mengenalkan pertanian berkelanjutan kepada generasi muda. Menghidupkan kebun sekolah. Mengajarkan pemanfaatan lahan pekarangan. Mengenalkan pengelolaan sampah. Menghemat air. Mengembangkan penghijauan. Bahkan memperkenalkan teknologi pertanian dan kewirausahaan berbasis pangan.

Sebab kedaulatan pangan tidak mungkin berdiri di atas lingkungan yang rusak.

Swasembada pangan bukan sekadar perkara berapa ton beras diproduksi. Di dalamnya terdapat penghormatan terhadap petani, keberlanjutan tanah, ketersediaan air, pemanfaatan teknologi, distribusi yang adil, dan kemampuan generasi muda untuk melihat pangan sebagai masa depan.

BACA JUGA  Buka LBB Pramuka, Wakil Bupati Bojonegoro: Jadikan Momen Melatih Disiplin dan Fokus Masa Depan

Di titik ini, Pramuka memiliki ruang pengabdian yang luas.

Namun, tantangan terbesar Gerakan Pramuka hari ini bukan mempertahankan seragam, upacara, atau tradisi. Tantangannya adalah membuat nilai-nilai kepramukaan tetap relevan ketika dunia berubah.

Semangat pengabdian yang dahulu diwujudkan melalui kerja bakti dan kegiatan sosial, kini dapat diperluas melalui teknologi digital.

Keterampilan bertahan hidup di alam terbuka dapat diperkaya dengan literasi pangan, teknologi pertanian, kewirausahaan, mitigasi bencana, hingga literasi digital.

Dengan demikian, Pramuka tidak menjadi organisasi yang hanya mengenang masa lalu. Ia justru menjadi ruang pendidikan karakter yang mampu membaca masa depan.

Pertanyaannya sederhana: apa arti janji yang kita ucapkan jika tidak pernah diwujudkan dalam tindakan?

Jangan sampai kita khusyuk mengucapkan janji pada malam hari, tetapi keesokan paginya kembali menyebarkan kabar bohong. Jangan sampai kita berbicara tentang cinta alam, tetapi membiarkan sampah berserakan. Jangan pula kita mengucapkan tentang pengabdian, tetapi menutup mata terhadap persoalan masyarakat di sekitar kita.

Janji harus turun dari bibir menuju perbuatan.

Jika nilai kedisiplinan, kemandirian, gotong royong, cinta alam, dan pengabdian mampu dihubungkan dengan gerakan pangan, Pramuka akan menemukan relevansinya dalam persoalan bangsa hari ini.

BACA JUGA  ꦪꦺꦤ꧀ꦮꦸꦱ꧀ꦠꦼꦏꦤ꧀ꦮꦪꦲꦺꦏꦧꦺꦃꦏꦸꦢꦸꦥꦶꦱꦃ (YEN WUS TEKAN WAYAHE KABEH PANCEN KUDU PISAH)

Dari kebun sekolah hingga halaman rumah. Dari kegiatan masyarakat hingga ruang digital. Dari tangan anak-anak muda hingga teknologi pertanian.

Di sanalah janji Pramuka menemukan bentuk barunya.

Sebab Indonesia membutuhkan generasi yang bukan hanya mampu mengonsumsi teknologi, tetapi juga mampu menggunakannya untuk menciptakan solusi. Bangsa ini membutuhkan anak muda yang tidak hanya pandai berbicara tentang masa depan, tetapi bersedia bekerja untuk menyiapkannya.

Dan pangan adalah salah satu masa depan itu.

Pada akhirnya, makna ulang janji tidak ditentukan oleh seberapa sering ia diucapkan. Maknanya ditentukan oleh seberapa sungguh-sungguh ia dijalankan.

Janji yang diucapkan di hadapan api unggun akan kehilangan makna jika tidak menjadi cahaya dalam kehidupan sehari-hari.

Di situlah relevansi Pramuka di era digital: memegang teguh nilai, tetapi tidak takut menghadapi perubahan zaman.

Api boleh padam.

Tetapi karakter seorang Pramuka harus tetap menyala.

Salam Pramuka.

Selamat Hari Pramuka.

Back to top