Pilkades PAW Wotan Memanas, Balai Desa Dikunci dan Dijaga Ketat Saat Ujian

Foto: Pelaksanaan ujian tes tulis penetapan calon Pilkades PAW Desa Wotan

Wartabojonegoro, BOJONEGORO – Pendopo Balai Desa Wotan, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro, yang seharusnya menjadi ruang terbuka bagi proses demokrasi desa, justru berubah bak area terbatas pada Kamis, 4 Juni 2026. Saat tahapan tes tulis Pemilihan Kepala Desa Antar Waktu (PAW) berlangsung, pintu gerbang balai desa terlihat tertutup rapat dan dijaga sejumlah aparat kepolisian.

Di luar pagar, warga hanya bisa menyaksikan dari kejauhan. Mereka berdiri di pinggir jalan dan sekitar balai desa, mempertanyakan alasan panitia menutup akses ke lokasi ujian yang menjadi bagian penting dari proses pemilihan kepala desa.

Dalih yang disampaikan panitia sederhana: agar peserta ujian tidak terganggu. Namun, bagi sebagian warga, alasan itu justru menimbulkan pertanyaan baru.

“Kalau prosesnya terbuka dan tidak ada yang perlu disembunyikan, kenapa warga tidak boleh melihat?” ujar seorang warga yang meminta namanya tidak disebutkan.

Pemandangan gerbang yang digembok dan penjagaan aparat di depan balai desa menjadi simbol yang sulit diabaikan. Di tengah memanasnya polemik Pilkades PAW Wotan, langkah tersebut dinilai mempertebal kecurigaan masyarakat terhadap penyelenggara.

BACA JUGA  Pemkab Bojonegoro Siapkan Program Mudik - Balik Gratis 2026

Sebelumnya, proses Pilkades PAW Desa Wotan memang telah menuai penolakan. Sejumlah warga mempersoalkan munculnya calon kepala desa yang dinilai berasal dari luar Desa Wotan. Mereka menganggap kondisi tersebut bertentangan dengan aspirasi masyarakat yang menginginkan kepemimpinan desa berasal dari putra daerah setempat.

Gelombang penolakan itu bahkan berujung pada tuntutan agar panitia pemilihan mengundurkan diri. Massa juga meminta roda pemerintahan desa tetap dijalankan oleh Penjabat (PJ) Kepala Desa sampai polemik pencalonan menemukan titik terang.

Kini, penutupan gerbang balai desa saat tes tulis berlangsung justru memperkuat mosi tidak percaya yang sebelumnya sudah berkembang di tengah masyarakat.

“Awalnya kami hanya mempertanyakan proses pencalonan. Sekarang ujian saja dilakukan tertutup seperti ini. Wajar kalau masyarakat bertanya-tanya,” kata warga lainnya.

Di lokasi, sejumlah aparat kepolisian tampak berjaga sejak pagi hingga proses ujian berlangsung. Situasi relatif kondusif, namun ketegangan terlihat dari kelompok-kelompok warga yang terus mengamati aktivitas di dalam kompleks balai desa dari balik pagar.

Bagi warga, persoalan utama bukan sekadar tes tulis. Yang mereka tuntut adalah keterbukaan. Sebab, dalam pemilihan kepala desa, kepercayaan publik merupakan modal utama yang tidak bisa digantikan oleh pagar besi, gembok, ataupun penjagaan aparat.

BACA JUGA  Perda Nomor 9 Tahun 2010 Akan Dicabut, DPRD Bojonegoro Tampung Aspirasi Kepala Desa

Ironisnya, semakin rapat akses informasi ditutup, semakin liar pula spekulasi yang berkembang di tengah masyarakat. Dan ketika gerbang demokrasi desa terkunci, yang lahir bukan ketenangan, melainkan kecurigaan.

Hingga berita ini ditulis, panitia Pilkades PAW Desa Wotan belum memberikan penjelasan resmi terkait alasan pembatasan akses warga selama pelaksanaan tes tulis berlangsung. (Red).

Back to top