Wartabojonegoro, BOJONEGORO – Pemilihan Kepala Desa Pergantian Antar Waktu (PAW) Desa Wotan, Kecamatan Sumberrejo, mulai memantik kegaduhan sosial bahkan sebelum tahapan verifikasi dimulai. Penutupan pendaftaran pada Jumat, 22 Mei 2026 pukul 14.00 WIB, justru menghadirkan kejutan: tiga dari enam bakal calon kepala desa tercatat bukan warga Desa Wotan.
Fakta itu di luar perkiraan panitia. Ketua Panitia PAW Desa Wotan, Yoyok, mengaku jumlah pendaftar membeludak pada hari terakhir, termasuk kemunculan kandidat dari luar desa.
“Tidak sesuai ekspektasi, kami kira cuma tiga, karena tahapan pendaftaran tinggal satu hari. Lebih-lebih ada pendaftar dari luar daerah,” ujar Yoyok.
Enam nama yang resmi mendaftar yakni Anam Warsito, Nuky Cahyanti Rahayu, dan Sugianto dari Desa Wotan. Sementara tiga nama lainnya berasal dari luar desa: Lilis dari Desa Sumbertlaseh, Kecamatan Dander; M. Hestu Widiyastono dari Desa Tegalkodo, Kecamatan Sukosewu; serta Satria Ike Intan Kumala dari Desa Mulyoagung, Bojonegoro.
Masuknya calon dari luar desa langsung memicu bisik-bisik hingga penolakan terselubung di tengah masyarakat. Sejumlah warga mempertanyakan logika kepemimpinan desa yang diperebutkan orang luar. Mereka menilai kepala desa bukan sekadar jabatan administratif, melainkan representasi sosial dan kultural masyarakat setempat.
“Kalau tidak paham karakter warga Wotan, bagaimana mau memimpin?” ujar salah satu warga yang enggan disebut namanya.
Polemik ini memperlihatkan jurang antara aturan dan penerimaan sosial masyarakat. Secara regulasi, pencalonan dari luar desa memang dimungkinkan. Namun persoalannya, banyak warga belum memahami aturan tersebut. Situasi itu rawan dimanfaatkan menjadi bahan provokasi yang dapat memicu konflik horizontal.
Di titik inilah panitia dituntut tidak sekadar menjadi pelaksana administratif. Transparansi dan keberanian menjelaskan aturan kepada publik menjadi kunci agar proses PAW tidak berubah menjadi arena saling curiga.
Sebab bila dibiarkan liar, isu “calon impor” bisa berkembang menjadi sentimen identitas desa yang berbahaya. Apalagi kontestasi kepala desa di tingkat akar rumput kerap lebih emosional dibanding pemilu formal.
Tahapan PAW Desa Wotan masih berlanjut. Setelah penutupan pendaftaran, panitia akan melakukan verifikasi administrasi seluruh bakal calon sebelum menetapkan nama-nama yang lolos ke tahap berikutnya.
“Pendaftaran sudah ditutup sesuai jadwal. Selanjutnya panitia akan melakukan verifikasi administrasi terhadap semua calon,” kata Yoyok.(Red)





